Sunyopo kini berumur 48 tahun. Hidupnya sudah hampir setengah abad, tetapi baginya, dirinya sudah mati sejak usia 4 tahun. Dia merasa, dirinya sudah mati bersama bapaknya sejak 52 tahun yang lalu. Bukan Cuma bapaknya, tetapi ibunya, neneknya, bahkan seluruh keluarganya. Aku sudah mati, sejak usiaku 14 tahun. Hal itu yang sering diucap Sunyopo setiap hari, menjelang waktu tidurnya di malam hari yang senyap.

Senyap. Ya, senyap. Saat balita, hidupnya penuh warna, penuh makna. Tetapi, saat balita jugalah, hidupnya menjadi tak berarti, karena semuanya sudah benar-benar mati. “Apa salahku?”—adalah kalimat kedua yang terlontar saat Sunyopo akan tidur.

Saat tidurpun, tak pernah ia merasakan tidur yang berkualitas. Selalu saja, suara-suara teriakan bergema dalam mimpinya. Warna merah darah, selalu menjadi warna yang melatari setiap mimpinya. Tangisan, adalah manifestasi yang tak pernah ia sadari selalu keluar saat setelah ia kembali terjaga dari tidurnya.

Usianya baru 48 tahun, tetapi rupa sudah seperti manusia ratusan tahun dengan segala endemik yang bersarang di tubuhnya. Mata penuh lebam, karena sulit untuk tidur. Rambut yang mulai cantang. Kulit yang tak lagi elastis. Kuku yang makin menguning. Gerak yang semakin lambat. Pipi yang semakin tirus. Serta, fisik yang tak lagi resisten.

Sejak balita, hidupnya sudah seperti barang buruan. Kesana-kesini dibawa orang tak dikenal—meski tak dikenal, namun entah apa dirasa, Sunyopo menyayangi orang tersebut. Lintas provinisi adalah hal yang biasa dilalui Sunyopo sejak balita. Hidupnya adalah tentang pelarian. Jika bukan tentang pelarian, pasti tentang kematian—Bicara tentang kematian, orang tak dikenal itupun pada akhirnya mati dengan tubuh yang termutilasi oleh kampak masa.

Belajar dari pengalaman, Sunyopo segera mentato dirinya, menyamari identitasnya. Menjadi manusia nomad. Hidup hanya dari gitar dan rokok. Sesekali, ia hidup dengan memalak bahkan merampok. Tidak masalah, menurutnya. Kriminalitas adalah normal menurutnya. Tak apa merampok, asal tidak membunuh. Lagipula, jika aku mau, sah-sah saja membunuh. Karena membunuh sudah dirasa wajar sejak seluruh keluarga ku mati secara tragis di pulau Buru.

“Jika yang salah bapak dan ibu, lantas kenapa aku—sang anak—juga ikut terlibat dalam perburuan dan dimarjinalkan? Aku tak tahu apa-apa soal pembunuhan berencana itu. Aku hanya bocah yang cuma tahu rasanya putting susu mamak-ku. Yang hanya tahu apa itu tertawa dan menangis. Yang hanya tahu kesepian dan terpinggirkan sedari dulu. Sunyopo, oh Sunyopo… sedih sekali kau. Sunyopo, oh Sunyopo… memang kau, Sunyopo yang Senyap.”

Lalu ia kembali tidur. Dan kembali ke dalam lautan darah dan teriakan kesakitan. Baginya, Neraka bukan lagi perkara siapa yang dosa siapa yang tidak. Kehidupannya adalah nerakanya. Terlebih, saat dalam tidurnya. Dasar Sunyopo. Sunyopo yang senyap. []

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *